Peran Strategis ASI


Masa kehidupan anak sejak dalam kandungan hingga usia dua tahun sangatlah strategis, terhadap kesehatan, juga kecerdasan, bahkan potensi kesejahteraan sang jabang bayi kelak saat dewasa. Kalau dalam skala global terkenal sebagai program ‘’Scaling Up Nutrition’’, di negeri kita sangat populer mengenai istilah ‘’1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK)’’.

Dalam Al-Qurán, di surat Al-Baqarah, Lukman dan Al-Al-Ahqaaf, disebutkan peran ibu hingga anak berusia dua tahun atau 1.000 hari pertama kehidupan teramat penting, termasuk di kala menyusui.

Sebagai tindak lanjut ‘’Innocent Declaration’’ tahun 1990, Badan Kesehatan Dunia (WHO—World Health Organization) dan Badan PBB untuk Anak-anak (UNICEF—United Nations Chilfren’s Fund), serta beberapa organisasi lainnya pada tahun 1992, mulai memperingati yang kini dikenal sebagai Minggu Air Susu Ibu (ASI) Se-Dunia (World Breastfeeding Week), tanggal 1 – 7 Agustus. Peringatan yang kini dilakukan oleh sekitar 100 negara tersebut, tahun ini mengangkat tema ‘’Support Breastfeeding for a Healthier Planet’’.

Air Susu Ibu memberikan manfaat ganda, baik kepada ibu maupun bayi. Pertama, banyak ahli medis berpendapat, ibu yang menyusui dapat mengurangi resiko kanker payudara, sakit gula, dan sakit jantung. Saat ini diperkirakan 20.000 wanita di dunia, meninggal karena kanker payudara.

Kedua, bagi si anak apabila sejam setelah lahir menikmati air susu ibunya, maka memiliki daya imun, terhindar dari diare, atau penyakit infeksi lainnya. Bila demikian halnya, ASI dapat mengurangi angka kematian bayi, yang saat ini di dunia diperkirakan mencapai 820.000 bayi per-tahun.

Ketiga, bila kepada si kecil diberikan ASI secara ekslusif selama enam bulan,dan diteruskan dengan pemberian ASI plus makanan tambahan (PMT) hingga usia dua tahun, maka kondisi fisik dan syaraf-syaraf otaknya akan berkembang pesat dan bayi akan terhindar dari kondisi stunting.

Keempat, apabila anak yang dilahirkan diberi ASI secara tepat, anak akan tumbuh sehat dan cerdas sehingga memberikan harapan optimis, setelah dewasa akan menjadi anggota masyarakat yang secara ekonomis baik. Mereka merupakan generasi baru yang terputus dari rantai kemiskinan.

Tedros Adhanom, sebagai Direktur Jenderal WHO sangat serius mengharap segenap Pemerintah di dunia mendukung penerapan 10 Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui (LMKM). Sepuluh langkah tersebut terkait dengan masalah makro seperti kebijakan, pelatihan, pembimbingan, hingga yang langsung dilakukan sang ibu sejak persiapan kelahiran, sentuhan pertama pada bayi, serta makanan bergizi yang wajib dikonsumsi. Telah banyak dikenal, konsumsi telor, ikan, susu dan ati, merupakan asupan tinggi protein dan mineral yang banyak dibutuhkan. The future is purchased by the present. Your interest should be in your future. We’re going to spend the rest of our life there.***

 

Oleh : SOEN’AN HADI POERNOMO

*Ketua Jejaring Pasca Penen untuk Gizi Indonesia (JP2GI)

*Dosen Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP), Jakarta