Webinar JP2GI: “Kusuma (Kurangi Susut Makanan) Bergizi”


Setiap tahun, hampir sepertiga pangan yang diproduksi atau sekitar 1.3 miliar ton susut dan menjadi limbah (lost and wasted). Namun demikian, pemahaman dan kesadaran tentang masalah ini masih rendah meskipun Food Sustainability Index 2017 menyebut setiap orang Indonesia membuang 300 kg makanan/tahunnya dan menetapkan Indonesia sebagai penyampah makanan terbesar kedua di dunia. Kondisi ini semakin parah di masa pandemi Covid19 ini. Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) membuat rantai pasok makanan terganggu akibat pembatasan-pembatasan logistik, transportasi, teknologi, serta adanya kekhawatiran berkurangnya pasokan yang menyebabkan orang membeli makanan dalam jumlah besar yang kemudian terbuang sia-sia.

Mulai Agustus 2020, JP2GI melaksanakan webinar yang diikuti oleh siapa saja yang tertarik dengan isu gizi dan pangan. Webinar pertama mengangkat tema “Pengetahuan Mutakhir dan Praktik Baik Pemberian ASI: Ibu Sehat-Kuat, Bayi Sehat-Kuat-Cerdas”. Tema ini sejalan dengan diperingatinya Pekan Menyusui Sedunia. Webinar ini diikuti secara langsung oleh 800 peserta melalui Zoom dan Live Stream Youtube dan sudah ditonton oleh lebih dari 3.700 penonton di kanal Youtube JP2GI Official. Peserta yang mengikuti kegiatan secara penuh (absen di awal dan di akhir sesi) mendapatkan sertifikat 1 SKP dari Persagi.

Direktur Gizi Masyarakat, Kementerian Kesehatan mengangkat tema Nasional: “Dukung Menyusui untuk Bumi yang Lebih Sehat”. Dalam paparannya, Ibu Dian Dhipo mengungkapkan bahwa permasalahan stunting atau kerdil sangat terkait dengan praktik menyusui di Indonesia. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) menunjukkan adanya penurunan angka stunting yang sejalan dengan meningkatnya angka Inisiasi Menyusui Dini (IMD) pada periode yang sama. Tahun 2013, stunting sebesar 37,2% dan IMD sebesar 34,5%. Tahun 2018, stunting turun ke 29,9% seiring dengan meningkatnya IMD ke 58,2%. ASI, menurut Ibu Dhian, berkontribusi terhadap pola produksi dan konsumsi yang lebih bertanggung jawab kepada lingkungan untuk mencapai tujuan pelestarian global  dan perubahan iklim. “ASI murah, alami, terbarukan dan tidak menghasilkan sampah”, ujarnya.

Ketua Satuan Tugas Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dr.Elizabeth Yohmi mengangkat tema “Pengetahuan Mutakhir dan Praktik Baik Pemberian ASI: Pengalaman dari Ruang Praktik”. Dalam paparannya, dr. Yohmi mengungkapkan bahwa rekomendasi pemberian makan bayi yang benar berdasarkan Panduan WHO tahun 2003 adalah IMD setelah lahir minimal 1 jam, ASI eksklusif selama 6 bulan, makanan pendamping ASI diberikan paling lambat pada usia 6 bulan, dan ASI dilanjutkan sampai 2 tahun atau lebih. dr. Yohmi menerima banyak pertanyaan tentang praktik menyusui semasa Covid19. Menjawab pertanyaan peserta, dr.Yohmi mengatakan bahwa belum ada rekomendasi global tentang pemberian ASI selama Covid tetapi Ibu disarankan untuk tetap memberikan IMD dan ASI kepada anaknya, dengan ibu memperhatikan kebersihan diri seperti mencuci tangan dan mandi sebelum menyusui, menggunakan masker diutamakan masker medis, dan setelah menyusui bayi tidak berlama-lama digendong dan dicium, tetapi harus meletakkan bayi segera setelah menyusui dengan  berjarak 2 meter tetapi tetap dalam 1 kamar untuk menghindari penularan lewat droplet. Perlu kerjasama antara keluarga, dokter dan RS terkait ibu menyusui dengan Covid 19.

Ketua Bidang Ilmiah DPP Persagi Nurfi Afriansyah, MScPH, memaparkan “Riset Mutakhir Pola Makan Ibu Menyusui, Konsentrasi DHA ASI, dan Status Gizi Bayi”. Bapak Nurfi menyampaikan bahwa ASI adalah makanan yang sangat bergizi dengan komposisi: Tiamin, Riboflavin, Vitamin B6, B12, C, A D, E, K, Folat, Kolin, Zat Besi, Tembaga, Seng, Kalsium, Fosfor, Magnesium, Iodium, Protein, Lemak, Karbohidrat, Asam-asam lemak tak jenuh ganda Omega-3 DHA dan Omega 6 ARA.

Terkait dengan upaya mengurangi susut dan limbah ASI, Badan Pengawas JP2GI, Bapak Hasanuddin Yasni yang juga merupakan Ketua Asosiasi Rantai Pendingin Indonesia (ARPI) menjelaskan tentang “Manajemen Penanganan dan Penyimpanan Air Susu Ibu untuk Menjaga Kesegaran dan Kualitasnya”. Menyadari bahwa sebagian ibu bekerja atau ibu yang memiliki banyak stok ASI menyimpan ASI perahnya, Bapak Hasanudin mengatakan bahwa ASI tersebut harus segera dikonsumsi selambat-lambatnya 4 jam untuk ASI beku yang sudah dicairkan. ASI perah yang sudah dihangatkan harus segera diminum. Jika terdapat sisa minum ASI maka dalam 1 jam ASI perah harus dibuang. Bapak Hasanudin menyarankan pentingnya pengelolaan ASI maupun susu bayi agar cairan bergizi ini tidak terbuang sia-sia.

Cuplikan Webinar "Kusuma (Kurangi Susut Makanan) Bergizi" bisa di tonton di kanal YouTube JP2GI Official.

Download materi dari narasumber tertera pada kolom deskripsi

 

Oleh: Caprina Runggu (Koordinator JP2GI/ GAIN)