Keluarga Masyarakat Bahari


Keluarga sebagai inti dari masyarakat, secara makro tentu merupakan bagian sangat penting dan strategis dalam berbangsa dan bernegara. Secara yuridis atau legalistik, pada UU nomor 10 tahun 1992 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Sejahtera dan Peraturan Pemerintah nomor 21 tahun 1994 tentarg Penyelenggaraan Pembangunan Keluarga Sejahtera, disebutkan bahwa peran keluarga terdiri dari aspek agama, social-budaya, cinta-kasih, perlindungan, reproduksi, pendidikan, ekonomi dan lingkungan.

Indonesia sebagai negeri kepulauan terbesar di dunia dan sebagian besar wilayahnya berupa laut, maka peran keluarga untuk membina generasi penerusnya sesuai dengan kodrat alam Nusantara, memiliki fungsi yang unik. Dalam hal pengembangan individu atau anggota keluarga, yang tentu merupakan bagian dari masyarakat, maka kiranya posisi keluarga dapat diperankan dalam pembinaan lima aspek.

Pertama, pembinaan dalam beragama, sesuai dengan keyakinan dan kepercayaan masing-masing. Dengan demikian maka terbentuklah pribadi yang taat menjalankan perintah agama, serta menjauhi larangannya. Kedua yaitu fungsi membina kesehatan. Peduli kondisi kesehatan keluarga, mewujudkan suasana fisik lingkungan rumah yang bersih dan sehat, serta suasana emosional yang positif. Dan tidak lalai untuk menyediakan asupan gizi yarg baik.

Diperhatikan pula gizi anak sejak dikandungan sampai usia 2 tahun dan berikutnya, agar terhindar dari kondisi stunting dan lemahnya potensi kecerdasan. Mengingat pula potensi negeri kepulauan, kiranya dapat memanfaatkan ikan yang tinggi protein dan paling mudah dicerna, serta mengandung omega 3 yang popular meningkatkan kecerdasan anak.

Ketiga adalah fungsi Pendidikan, terutama bagi anak-anak. Melalui Pendidikan, mewujudkan keluarga penerus yang lebih baik. Kualitas individu banyak terbentuk oleh faktor pendidikan. Dengan pendidikan yang baik dan asupan gizi yang tinggi, akan memutus rantai kemiskinan, lantaran mewujudkan generasi yang berbobot.

Namun kondisi era digital masa kini harus diwaspadai, memang patut disyukuri, kemajuan ini mendorong generasi Zaman Now lebih cepat dan mudah untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Akan tetapi, banyak keluhan dan bukti nyata, apabila salah didik, maka sang anak atau remaja terpengaruh oleh sikap negative tokoh yang di tontonnya, dan bisa juga terbuai games yang memusnahkan etos belajar ataupun etos kerja.

Keempat adalah pembinaan rasa cinta tanah air, atau kebangsaan. Masa kini adalah era persaingan global yang tinggi. Sebagai inti system suatu bangsa, keluarga harus berperan juga untuk menyadarkan, sebagai bagian dari bangsa yang sedang bersaing.

Apabila berada di barisan belakang dari bangsa-bangsa di dunia, maka akan menjadi bagian suatu bangsa yang terpuruk dikemudian hari.

Apalagi kemajuan teknologi dan kebebasan berpendapat memiliki akses dapat menebar ujaran kebencian serta nasionalisme, melalui medsos atau forum komunikasi lainnya. Padahal negeri bahari yang ditakdirkan Tuhan berpulau-pulau dan bergunung-gunung memiliki konsekuensi terbentuk ratusan suku dan budaya, serta memiliki agama dan kepercayaan yang merajut persatuan merupakan kunci paling penting dan strategis.

Kelima adalah fungsi keluarga dalam menanam rasa kasih sayang kepada sesama manusia, terlepas dari ras, etnis, suku ataupun agama yang dipeluknya. Keberhasilan suatu individu adalah pribadi yang memiliki relasi positif dengan banyak kawan. Dan sebaliknya, kebencian atau permusuhan tentu menghasilkan derita dan kesusahan. Dalam skala bangsa juga terbukti, bangsa yang terpecah senantiasa berbuntut dengan permasalahan.

Filosof dari dinasti Tang berucap: “Meski dari tempat yang berbeda, namun kita berada dibawah langit yang sama”. Serupa dengan ungkapan seorang sufi dari Persia menyampaikan: “Keturunan Adam adalah seperti bagian tubuh, diciptakan dari satu sumber. Ketika ada bencana yang menimpa satu bagian tubuh, bagian yang lain tidaklah mungkin dapat berdiam diri.”

 

Hari Keluarga

Pentingnya posisi keluarga dalam pembentukan individu, bahkan mewarnai kualitas masyarakat dan suasana dalam berbangsa dan bernegara, timbullah gagasan untuk ditetapkan Keputusan Presiden Nomer 39 Tahun 2014. Hari Keluarga Nasional yang di peringati setiap tanggal 29 Juni. Pada awalnya, almarhum Presiden Soeharto pernah pula mencanangkan Hari Keluarga pada tanggal 29 Juni 1993, di Lampung.

Profesi seseorang membedakan kondisi komunikasi dengan keluarga. Karyawan yang bekerja di darat berangkat pagi, pulang sore, malamnya berkumpul dengan keluarga. Lain halnya dengan pekerja di laut. Memang ada yang meninggalkan keluarga selama semalam, atau satu hari. Misalnya nelayan one-day atau one-night fishing. Tapi tak sedikit yang berminggu-minggu atau berbulan-bulan berlayar menangkap ikan pada fishing ground yang lumayan jauh.

Tahun lalu disuatu malam yang sepi, di tempat pendaratan ikan desa Paiton, Probolinggo, Jawa Timur, terlihat pemandangan yang menyentuh hati. Beberapa wanita tidur di atas tikar, beberapa ada yang sambil memeluk bayinya, dipinggir pantai, dibelai angin laut yang dingin. Rupanya fenomena itu sering terjadi setiap malam. Mereka mengikuti tradisi, bahwa sang isteri wajib menunggu kedatangan suami, nelayan tradisional, yang menangkap ikan dilaut, dan malam itu mendaratkan perahu atau kapal kecilnya.

Dengan demikian maka patutlah bila terdapat inisiatif untuk mengingatkan perlunya rasa kebersamaan yang solid dalam keluarga, melalui peringatan Hari Keluarga. Masyarakat global juga mengakui peran penting setiap keluarga. Perserikatan Bangsa Bangsa telah menetapkan International Family Day tanggal 15 Mei, pada beberapa negara telah memiliki Family Day pada hari yang berbeda. Misalnya di Amerika Serikat, dirayakan pada minggu pertama bulan Agustus. Australia pada hari Selasa pada minggu pertama bulan November, dan Kanada pada hari Senin minggu ketiga bulan Februari.

 

Oleh:Soenán Hadi Poernomo – Ketua JP2GI