Mengusung Gerakan Kurangi Makanan Terbuang!


Penulis: Hasta Octavini/Editor : Syamdidi

 

Isu hilangnya makanan dan pemborosan pangan tidak bisa lagi diabaikan di era ini. Membawa dampak serius pada ketahanan pangan, lingkungan, dan ekonomi, dua masalah ini menjadi sorotan dunia. Menurut laporan FAO tahun 2019, sekitar 14% dari produksi pangan global, senilai USD 400 miliar setiap tahun, hilang setelah panen. Tak kalah mencemaskan, Laporan Indeks Limbah Makanan UNEP menyebutkan bahwa 17% makanan berakhir terbuang sia-sia. Tidak hanya soal angka, tetapi ini juga berkaitan dengan 1,26 miliar orang yang bisa mendapatkan makanan dari pangan yang terbuang.

Sebagai respons terhadap tantangan global ini, Jejaring Pasca Panen untuk Gizi Indonesia (JP2GI) bersama Kementerian PPN/Bappenas, The Global Alliance for Improved Nutrition (GAIN) Indonesia, dan Life Cycle Indonesia (LCI) Indonesia menggelar Focus Group Discussion (FGD) pada 29 Agustus 2023. FGD ini bertujuan untuk merumuskan langkah-langkah konkrit menuju pengurangan pemborosan pangan hingga 75% pada tahun 2045.

"Kita butuh tindakan serius untuk menangani masalah ini," sambung Ketua JP2GI, Dr. Soen’an Hadi Poernomo. Dalam sambutannya, Dr. Soen’an Hadi Poernomo, menyatakan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, industri, dan masyarakat dalam merancang peta jalan untuk mencapai tujuan tersebut. "Ini adalah upaya bersama kita untuk menciptakan rencana yang konstruktif dan aplikatif," katanya.

Dalam diskusi tersebut, Deputi Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya Alam, Kementerian PPN/Bappenas RI, Dr. Vivi Yulaswati menyampaikan pentingnya mengubah cara kita memandang sistem pangan. Dia menyoroti lima arah transformasi sistem pangan, termasuk aspek kesehatan, inklusi, kesetaraan, keberlanjutan, dan ketahanan. Fokusnya termasuk mengakhiri kelaparan, meningkatkan pola makan, mendukung pangan pesisir dan laut, serta memperkenalkan "Blue Food" sebagai sumber pertumbuhan baru.

"Kita harus memiliki kebijakan yang mendukung transformasi ini, termasuk bantuan pangan, peningkatan kapasitas UKM, dan inovasi," tambahnya. Poin penting dari presentasinya adalah perlunya menerapkan ekonomi sirkular untuk mengurangi penggunaan sumber daya dan mendaur ulang produk yang tidak terkonsumsi.

Dalam sesi diskusi, peserta menekankan perlunya kesepakatan terkait padanan istilah food loss and waste di Indonesia, dengan opsi antara susut dan sisa pangan, atau pemborosan pangan dan limbah Pangan. “Sisa dan susut pangan bisa disepakati sebagai adopsi food loss and waste” usul Dr. Nyoto Suwigyo, Deputi Kerawanan Pangan dan Gizi, Badan Pangan Nasional (Bapanas). “Inisiatif reduksi susut dan sisa pangan patut didorong karena selaras dengan program Bapanas untuk penyelamatan pangan,” tambah Dr. Nyoto.

Yuno A.Lahay dari PHRI menekankan pentingnya penyediaan makanan yang cukup dan terorganisir dengan baik dalam industri hotel dan restoran. PHRI berkomitmen untuk mengembangkan sistem pengelolaan sisa makanan dan berkolaborasi dengan Food Bank Indonesia, organisasi nirlaba yang mengumpulkan dan mendistribusikan makanan bagi yang membutuhkan. “Kami mendukung inisiatif reduksi susut dan sisa pangan melaui penyelamatan pangan bersama mitra kami”, jelas Hendro Utomo, founder Food Bank of Indonesia.

Dengan semangat kolaborasi dan tindakan konkret, Indonesia berusaha untuk menjadi pemimpin dalam mengurangi pemborosan pangan dan mencapai kesejahteraan pangan pada tahun 2045. Sebagai penutup, Dr. Vivi Yulaswati kembali menegaskan, "Mari kita bersama-sama menciptakan masa depan pangan yang berkelanjutan dan menyelamatkan miliaran hidup!".